Cute Rocking Baby Monkey Bloggernya Ardillah Rachmi

Sabtu, 13 Juni 2026

Mental Awur-awuran

- Mental awur-awuran -


Perubahan itu keniscayaan, begitupun hati seseorang yang mudah berubah. Pernah dari setiap jiwa merasa letih, terbebani harapan yang bertolak belakang dengan realita, merasa berat saat menjalani kehidupan, bimbang keraguan menjadi bagian dalam cerita kehidupan, tidak tenang hadir karena ketidaktahuan mesti apa dan bagaimana, jika sedang dalam fase-fase ini tandanya dunia sudah memperkenalkan dirinya. 

"Hai, aku dunia. Aku terkadang membuatmu senang hingga melupakan waktu. Aku juga bisa membuatmu sedih hampir menyerah saat masalah tiba-tiba datang meruntuhkan kepercayaan dirimu. Ada yang menganggap ku sangat berharga hingga rela menukar segalanya. Ada yang terpuruk berpikir aku telah menyiksanya. Kamu kelompok yang mana?. Ketidakpastian ku dan ketidaktahuan kamu adalah kemestian. Salam kenal, kamu selesaikan misimu dan aku juga menjalankan misiku."

Dunia dan manusia berjalan berdampingan. 

Ada yang pernah bertanya di sebuah grup facebook, "Gimana cara menjaga mental?." Lalu saya jawab, "Membaca Buku." Ada yang mempertanyakan komentar saya, sebut saja si A, "Menjaga mental loh yang dia tanyakan, bukan menghabiskan waktu." Saya membalas, "Saya serius ga asal jawab, membaca buku punya damage yang lebih besar dari keliatannya (dari sekedar menghabiskan waktu)." 

Kebetulan sebelumnya saya menonton podcast dari Rori Asyari dan Henry Manampiring (penulis buku Filosofi Teras)—yang tayang pada bulan Januari 2026. Dalam podcast tersebut ada part dimana Henry Manampiring menceritakan pengalamannya dalam acara semisal temu penggemar, ada seorang pembaca yang mengucapkan rasa terima kasih kepadanya karena telah membuat sudut pandangnya berubah setelah membaca buku Filosofi Teras, karena ada sensor kata dalam penjelasannya saya menangkap dari pelafalan sang penulis bahwa pembaca tersebut sudah memiliki rencana untuk melakukan suatu tindakan kriminal kepada kedua orang tuanya tapi tak jadi ia lakukan. Tentu saja, Henry Manampiring speechless mendengar pengakuan blak-blakan orang itu, campur aduk namun dia bersyukur bahwa dengan bukunya seseorang bisa berubah jadi lebih baik.

Saya juga salah satu manusia yang pernah merasakan mental awur-awuran itu. Jadi, kenapa masih menilai bahwa membaca buku hanya sebatas menghabiskan waktu?.

Buku awal-awal yang saya baca adalah Paradigma Kaum Tertindas karya Ali Syari'ati, Fihi Ma Fihi karya Jalaludin Rumi, Sejarah Hidup Muhammad karya Muhammad Husein Haikal, Al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah as-sakandari, Quantum of Ikhlas karya Erbe Sentanu, dan lain-lain.

Adanya perubahan itu dengan mempertanyakan, jadi jangan sekedar membaca buku tanpa mempertanyakan kembali isi buku—memahami apa yang disampaikan penulis. Karena setelah mempertanyakan, akan ada jawaban dan keyakinan lebih dalam. 

Sekian.

Gambar hanya pemanis. Mau lebih manis cobalah kalian bercermin. 😄😊