Buka aplikasi Al-Qur'an "Quranbest" ketika smartphone diguncangkan akan keluar ayat acak secara otomatis. MasyaAllah tadi ayat yang terpampang adalah QS. Asy-Syura [42]: 39. Begini ayatnya:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُوْنَ
"(juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim, mereka membela diri."
Ketika buka Tafsir Ibnu Katsir yang ada pada aplikasi Al-Qur'an "Qur'an Tadabbur". Auto full senyum karena terharu sama isi tafsirnya:
Yakni mereka yang mempunyai kekuatan untuk membela diri dari orang-orang yang berbuat aniaya dan memusuhi mereka. Mereka bukanlah orang-orang yang lemah, bukan pula orang-orang yang hina, bahkan mereka mempunyai kemampuan untuk membalas perbuatan orang-orang yang berlaku kelewat batas terhadap diri mereka. Sekalipun sifat mereka demikian, mereka selalu memberi maaf—yakni gemar memberi maaf (kepada orang yang sudah menzalimi mereka*), walaupun mereka mampu untuk membalas.
Seperti halnya yang dikatakan oleh Nabi Yusuf 'alaihisalam kepada saudara-saudaranya yang pernah hampir membunuhnya.
"Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu)." (Yusuf: 92).
Padahal Yusuf 'alahisalam mampu menghukum mereka dan membalas perbuatan mereka terhadap dirinya dengan balasan yang setimpal. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam terhadap 80 orang yang berniat akan membunuhnya pada tahun Perjanjian Hudaibiyyah. Mereka turun dari bukit Tan'im; dan setelah mereka dapat dikuasai maka Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam memberi maaf dan membebaskan mereka, padahal beliau Shallallahu'alaihi wa Sallam mampu menghukum mereka.
Dan pada ayat selanjutnya, QS. Asy-Syura [42]: 40.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَاۚ فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
"Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim."
Dalam Tafsir Ibnu Katsir ayat tersebut sebagai berikut:
Semakna dengan firman-Nya yang disebutkan dalam ayat yang lain, yaitu:
"Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadapmu." (Al-Baqarah: 194).
Semakna pula dengan firman-Nya:
"Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu." (An-Nahl: 126), hingga akhir ayat.
Maka keseimbangan merupakan hal yang disyariatkan, yaitu hukum qisas, sedangkan yang lebih utama daripada itu hanyalah dianjurkan, yaitu memaafkan seperti yang disebutkan pula dalam ayat yang lain melalui firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"Dan luka-luka (pun) ada qisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya." (Al-Maidah: 45).
Karena itulah dalam surat ini disebutkan dalam firman-Nya:
"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40).
Artinya, hal tersebut tidak sia-sia di sisi Allah. Seperti apa yang disebutkan di dalam sebuah hadits shahih:
"Tidak sekali-kali Allah memberi tambahan kepada seseorang hamba dengan sifat pemaaf, melainkan kemuliaanlah (yang diperolehnya)."
Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim." (Asy-Syura: 40).
Maksudnya, orang-orang yang bersikap melampaui batas, yaitu orang yang memulai permusuhan dan berbuat jahat.
Dua ayat diatas adalah sebuah gambaran tentang Seni Memaafkan. Memaafkan seringkali dianggap sebuah kelemahan dalam bersikap, namun kenyataannya memaafkan lebih sulit dibandingkan dengan membalas kan?. Karena ketika memaafkan kamu bukan hanya berdiam diri tidak melakukan apapun, justru kamu sedang melawan badai keriuhan dalam dirimu sendiri. Menahan gejolak yang membara dalam dada. Menetralkan kecepatan degup jantung. Deru nafas pun memburu, namun kamu coba untuk tetap tenang dengan rileksasi pernafasan sederhana.
Memaafkan bukan karena ketidakmampuan untuk membalas, tetapi kesadaran pada pilihan untuk tidak terbawa pasangnya ombak dalam desiran darah. Yang dimana, akan ada banyak penyesalan ketika suatu hal terjadi secara fatal—karena tidak jernih dalam bertindak. Selaras dengan apa yang Allah janjikan, ketika kita menjadi pemaaf maka Allah Subhanahu wa Ta'ala muliakan dengan secara langsung memberikan ganjaran (pahala) kelak nanti di Yaumul Hisab. InsyaAllah.
📍Catatan: *adalah tambahan dari saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar