يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ
“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan
tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”
{QS. An-Naml: 18.}
- PELAJARAN KELIMA: Berpikir Positif.
Perhatikanlah dengan seksama kata-kata semut itu, “Agar kamu tidak
diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.
Ia telah mengedepankan prasangka baik kepada Sulaiman beserta
pasukannya, karena semut sangat kecil hingga hampir para pejalan kaki
tidak memperhatikannya.
Dalam posisi terancam seperti ini, ia masih
sempat berbaik sangka dan menambahkan kata-kata peringatan dengan
kalimat “sedang mereka tidak menyadari”, tidak diragukan bahwa ini
adalah logika indah Al-Quran yang ingin dijelaskannya kepada manusia.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka sebab sebagian prasangka adalah perbuatan dosa.”
{QS. Al-Hujurot: 12.}
Kita perlu membersihkan diri dari penghakiman dan tuduhan terhadap
niat di hati. Perlu untuk membuat penilaian pada zhohir nyata
sebagaimana yang disepakati oleh para ulama. Perlu mengusir pikiran
buruk dalam jiwa yang menambah kobaran api permusuhan terhadap sesama
muslim. Perlu membuat alasan dan interpretasi kejelekan dalam bentuk
kebaikan jika hal itu memungkinkan. Kita juga perlu berhenti untuk
memeriksa hati orang-orang dan membongkar rahasia mereka dengan modal
prasangka buruk.
Agama Islam sering memberikan peringatan dari beburuk sangka,
sebagaimana sabda Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi
wasallam, “Waspadalah terhadap buruk sangka sebab buruk sangka merupakan
perkataan paling dusta”.
Al-Faruq ‘Umar bin Al-Khoththob rodhiyallaahu ‘anhu berkata, “Jangan
kamu berpikir sebuah kata yang keluar dari mulut saudaramu sebuah
kejelekan, padahal kamu menemukan untuknya muatan kebaikan!”.
Ibnu Sirin rohimahullaah mengatakan, “Jika sampai kepadamu sesuatu
tentang saudaramu maka carilah alasan untuknya, tapi jika kamu tidak
menemukannya, maka katakan, “Mungkin dia punya alasan yang aku tidak
mengetahuinya”.”
Perhatikan Imam Asy-Syafi’i rohimahullaah di saat beliau sedang
sakit, datanglah sebagian teman-temannya menjenguk, berkatalah salah
seorang kepada Imam Asy-Syafi’i, “Semoga kelemahanmu menguat karena
Allah”, Imam Asy-Syafi’i berkata, “Jika kelemahanku menjadi kuat niscaya
ia akan membunuhku”. Orang itu berkata, “Demi Allah aku tidak bermaksud
kecuali yang baik”. Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Saya tahu itu, karena
jika kamu menghinaku sekalipun, pasti tidaklah yang kamu inginkan
untukku melainkan kebaikan”.
Semangat ini harus tetap terpelihara di antara kita sehingga kita
menjadi satu kekuatan yang tak terpisahkan, karena dengan berbaik sangka
terhadap orang lain merupakan cara paling efektif dalam menyelesaikan
pertikaian di kalangan umat Islam, demikan semut itu mengajariku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar