Cute Rocking Baby Monkey Bloggernya Ardillah Rachmi : Seekor Semut Mengajariku ; Pelajaran Kelima (terakhir)

Jumat, 29 Maret 2024

Seekor Semut Mengajariku ; Pelajaran Kelima (terakhir)

Perkataan seekor semut ketika Nabi Sulaiman ‘alayhissalam beserta pasukannya akan melintas,
يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ
“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan
tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”
{QS. An-Naml: 18.}
  • PELAJARAN KELIMA: Berpikir Positif.
Perhatikanlah dengan seksama kata-kata semut itu, “Agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”. Ia telah mengedepankan prasangka baik kepada Sulaiman beserta pasukannya, karena semut sangat kecil hingga hampir para pejalan kaki tidak memperhatikannya.

 Dalam posisi terancam seperti ini, ia masih sempat berbaik sangka dan menambahkan kata-kata peringatan dengan kalimat “sedang mereka tidak menyadari”, tidak diragukan bahwa ini adalah logika indah Al-Quran yang ingin dijelaskannya kepada manusia.

Kita sebagai makhluq yang diberikan tugas syari’at lebih pantas mematuhi perintah Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka sebab sebagian prasangka adalah perbuatan dosa.”
{QS. Al-Hujurot: 12.}

Kita perlu membersihkan diri dari penghakiman dan tuduhan terhadap niat di hati. Perlu untuk membuat penilaian pada zhohir nyata sebagaimana yang disepakati oleh para ulama. Perlu mengusir pikiran buruk dalam jiwa yang menambah kobaran api permusuhan terhadap sesama muslim. Perlu membuat alasan dan interpretasi kejelekan dalam bentuk kebaikan jika hal itu memungkinkan. Kita juga perlu berhenti untuk memeriksa hati orang-orang dan membongkar rahasia mereka dengan modal prasangka buruk.

Agama Islam sering memberikan peringatan dari beburuk sangka, sebagaimana sabda Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam, “Waspadalah terhadap buruk sangka sebab buruk sangka merupakan perkataan paling dusta”.

Al-Faruq ‘Umar bin Al-Khoththob rodhiyallaahu ‘anhu berkata, “Jangan kamu berpikir sebuah kata yang keluar dari mulut saudaramu sebuah kejelekan, padahal kamu menemukan untuknya muatan kebaikan!”.

Ibnu Sirin rohimahullaah mengatakan, “Jika sampai kepadamu sesuatu tentang saudaramu maka carilah alasan untuknya, tapi jika kamu tidak menemukannya, maka katakan, “Mungkin dia punya alasan yang aku tidak mengetahuinya”.”

Perhatikan Imam Asy-Syafi’i rohimahullaah di saat beliau sedang sakit, datanglah sebagian teman-temannya menjenguk, berkatalah salah seorang kepada Imam Asy-Syafi’i, “Semoga kelemahanmu menguat karena Allah”, Imam Asy-Syafi’i berkata, “Jika kelemahanku menjadi kuat niscaya ia akan membunuhku”. Orang itu berkata, “Demi Allah aku tidak bermaksud kecuali yang baik”. Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Saya tahu itu, karena jika kamu menghinaku sekalipun, pasti tidaklah yang kamu inginkan untukku melainkan kebaikan”.

Semangat ini harus tetap terpelihara di antara kita sehingga kita menjadi satu kekuatan yang tak terpisahkan, karena dengan berbaik sangka terhadap orang lain merupakan cara paling efektif dalam menyelesaikan pertikaian di kalangan umat Islam, demikan semut itu mengajariku.

{Dikutip dari Majalah Qiblati edisi 8 thn. VIII. Artikel “Seekor Semut Mengajariku” Penulis: Adil Manna’.}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar