يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ
“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak
diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”
{QS. An-Naml: 18.}
- PELAJARAN KEEMPAT: Mendahulukan Solusi Praktis.
Orang yang mengamati cerita seekor semut yang ada dalam ayat di atas
sesungguhnya ia tidak cukup memperingatkan saja, tetapi memberikan
solusi praktis yang menghibur bangsanya dari kelelahan berpikir tentang
jalan keluar dari keadaan sulit. Seperti perkataannya, “Masuklah kalian
ke dalam sarang-sarang kalian”, dia tidak melepas teriakan peringatan
dan puas dengan tindakan ini, tetapi ia memberi mereka solusi praktis.
Yaitu masuk ke dalam lubang, semut ini juga menemukan solusi yang tepat
karena jika mereka melarikan diri ke setiap penjuru di permukaan tanah
maka mereka akan melewatkan kesempatan untuk melarikan diri dari langkah
kaki-kaki pasukan tentara yang datang. Maka ia memberikan solusi mudah
dan cepat sesuai dengan sifat semut dan potensi mereka.
Sejatinya memberikan solusi praktis untuk ummat adalah hal yang besar
yang dibutuhkan oleh semua da’i, sebuah pekerjaan mudah menasehati
manusia dan mendorong mereka untuk iman dan taat serta komitmen terhadap
hokum-hukum Allah, tapi itu saja tidak cukup, kita harus menawarkan
solusi praktis di samping solusi iman.
Media massa mempunyai peran dalam mempromosikan citra negatif. Da’i
Ahlussunnah tidak memiliki solusi praktis sebagaimana mereka
menemukannya pada kelompok sekuler. Dalam salah satu film kuno terkenal,
seorang pencuri yang terpaksa melarikan diri dari kondisi sulit yang
dialaminya, dan membuatnya menjadi seorang penjahat. Dia berlindung
kepada seorang syeikh yang sedang beribadah di sudut musholla, dan
memintanya untuk memberikan solusi dari masalah yang dialaminya.
Tiba-tiba syeikh itu memberikan pertanyaan yang tidak lebih dari
“berwudhu’ dan sholat”. Media massa ini ingin menyebarkan keputusasaan
dalam hati orang-orang bahwa para da’I kebenaran tidak menyelesaikan
krisis melainkan dengan berdo’a dan membaca Al-Quran saja. Ini bukan
ajaran Nabi Muhammad shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam, tidak
pula ajaran para shahabatnya yang mulia. Umar rodhiyallaahu ‘anhu telah
meriwayatkan bahwa ia melihat unta yang mengidap penyakit kulit, maka
Umar bertanya kepada mereka, “apa yang telah kalian perbuat untuk
mengobati unta ini?” Mereka mengatakan, “Kami mendo’akannya.” Umar
mengatakan, “Buatlah bersama do’a itu sesuatu berupa tetesan obat.”
Untuk para da’i kepada Allah seharusnya berinteraksi aktif dengan
masyarakat dan tidak hanya bicara sebatas teori saja. Tetapi
menggenapkannya dengan memberikan solusi praktis, jadi jika seorang da’i
berbicara tentang pekerjaan dan nilainya dalam Islam, dan penolakannya
terhadap pengangguran. Ia harus mengusulkan kepada praktisi pengangguran
sebuah solusi praktis yang tercermin dalam usulan proyek kecil yang
mudah diakses orang. Ini adalah metode Islam yang benar dalam menangani
masalah orang-orang di masyarakat muslim, seperti ini aku diajarkan oleh
semut itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar