يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ
“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”
{QS. An-Naml: 18.}
- PELAJARAN KEDUA: Mendahulukan Kepentingan Publik Di Atas Kepentingan Pribadi.
Semut ini telah menawarkan dirinya kepada bahaya besar, yaitu kaki
manusia dan langkah-langkah mereka bagi hewan kecil semut. Semisal
puluhan meter, ini pasti sangat berbahaya bagi semut. Resiko yang
sewaktu-waktu datang dari kaki manusia atau binatang buas. Seharusnya
dalam situasi ini, ia berlari mencari perlindungan dan tidak
memperdulikan semut yang lain, tetapi ia memutuskan untuk menyeru
memberi peringatan kepada kaumnya untuk menyelamatkan diri mereka. Ini
bukti bahwa ia lebih mendahulukan kepentingan kaumnya daripada
kepentingan pribadi.
Umat Islam sangat haus kepada semangat ini, yaitu semangat
pengorbanan untuk kepentingan ummat, di atas kepentingan pribadi. Ada
sebuah pernyataan mengatakan, “Bencana banjir melanda diriku dan
orang-orang setelahku, aku berkonsultasi dengan keegoisan diri, namun ia
lebih suka mengorbankan kepentingan ummat dan kepentingan bersama.”
Semangat itulah yang ada pada diri Imam Ahmad bin Hambal rohimahullaah. Orang-orang di sekitar kholifah Siyaj adalah kaum mu’tazilah yang
menyangkal sifat Al-Kalam dari Allah, dan mengatakan bahwa Al-Quran
adalah makhluq. Sedangkan menurut Ahlussunnah wal Jama’ah, Al-Quran
adalah Kalam Allah (ucapan Allah) bukan makhluq, sehingga kholifah pun
terpengaruh oleh keyakinan mereka kaum mu’tazilah. Lantas berinisiatif
menguji dan memaksa manusia dengan mengatakan bahwa Al-Quran adalah
makhluq. Barangsiapa mengatakan Al-Quran adalah makhluq maka ia
dibebaskan, tapi barangsiapa mengatakan Al-Quran adalah Kalam Allah dan
bukan makhluq maka ia disiksa dan dipenjarakan sampai ia mengakui apa
yang dia inginkan.
Sebagian ulama menerima pernyataan Al-Quran adalah makhluq sebagai
sikap tauriyah dan menyembunyikan kebenaran yang ada dalam hati, kecuali
Imam Ahmad, beliau menolak demi menyelamatkan diri. Kemudian
meninggalkan aqidah busuk ini (aqidah Al-Quran adalah makhluq) yang
menyebar di kalangan orang-orang. Ketika beliau disarankan oleh beberapa
ulama untuk menyembunyikan keyakinan dalam hatinya dengan mengungkapkan
kebalikannya, maka beliau memerintahkan mereka untuk melihat di luar
rumah.
Ternyata di luar telah menunggu beribu-ribu orang sambil membawa
pena dan botol tinta guna mencatat apa yang akan dikatakan Imam Ahmad
tentang Al-Quran, dan beliau mengatakan bahwa, “Jika seorang ulama
berbicara Al-Quran adalah makhluq dengan menyembunyikan keyakinan yang
sebenarnya dalam hatinya dan orang bodoh tidak mengetahuinya maka kapan
lagi kebenaran dapat diketahui?”
Dan Imam Ahmad tetap kokoh sekokoh gunung dangan pendapatnya, bahkan
salah satu algojo kerajaan mengatakan, “Aku telah mencambuk Imam Ahmad
sebanyak seratus cambukan jika mengenai seekor gajah niscaya ia akan
ambruk.” Beliau lebih mementingkan kemashlahatan Ummat dari
kemashlahatan pribadinya sendiri hingga datang kepadanya kemudahan dari
Robbnya, dan menjadikan namanya harum sepanjang masa.
Alangkah kita membutuhkan semangat itu. Semangat itu kita perlukan
untuk membasmi tokoh-tokoh kerusakan, dan menanam benih kebaikan di
tanah air tercinta. Kita menginginkan detak jantung yang mencintai ummat
serta menjaganya. Kemudian mendahulukan kepentingan ummat dan
menaklukkan egoism, agar mau berkorban demi kepentingan orang banyak,
semangat inilah yang diajarkan seekor semut itu kepadaku.
Baca Juga Inspirasi Ini : ^_^
Baca Juga Inspirasi Ini : ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar