يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ
“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan
tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”
{QS. An-Naml: 18.}
- PELAJARAN KETIGA: Bersungguh-sungguh Dalam Berkarya Dan Tidak Hanya Sibuk Memprediksi Hasil.
Semut itu telah membuat contoh unik untuk kita dalam hal kepedulian
terhadap usaha keras tanpa berfokus pada konsekuensi potensial. Ini
adalah benar-benar sifat para Nabi dalam berdakwah di jalan Allah.
Mereka mengeluarkan energi maksimal mereka dalam berdakwah, sebab di
sini tempat penghargaan dan hukuman, bukan pada hasil. Selama ini
kelalaian berasal dari usaha yang dikeluarkan bukan pada hasil yang
dicapai. Jika tidak, kita pasti akan menuduh para Nabi Allah telah
melalaikan tugas mereka. Dari mereka ada yang tidak memiliki pengikut
melainkan beberapa orang saja. Sebagian mereka ada yang tidak
mendapatkan pengikut sama sekali.
Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi
wa’alaa aalihi wasallam bersabda, “Telah diperlihatkan kepadaku
bangsa-bangsa terdahulu meka berlalu seorang Nabi dengan satu orang
pengikut, dan seorang Nabi dengan dua orang pengikut dan seorang Nabi
dengan sekelompok pengikut, dan seorang Nabi tanpa pengikut satu orang
pun.” {HR. Bukhori (no.5752).}
Semut ini tidak bertanya pada dirinya sendiri, seperti, “Apakah
suaraku yang lemah ini dapat didengar atau tidak? Apakah mungkin suaraku
didengar oleh semut yang banyak? Apakah saya dapat memperingatkan
mereka sebelum terlambat?” Ambisinya tidak terfokus pada hasil yang akan
diraih, meskipun hal itu tetap terlintas pada dirinya, namun keasyikan
dengan tindakan aplikatif dan memberikan waktu maksimal dalam mencari
kemashlahatan lebih utama daripada membuang-buang waktu dalam
memprediksi hasil,
Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi
wasallam bersabda,
“Jika hari kiamat telah terjadi dan di tangan salah seorang di antara
kalian ada bibit kurma, jika ia bisa menanamnya sebelum terjadi maka
sebaiknya ia segera menanamnya maka baginya pahala sebab usahanya itu.”
{HR. Ahmad (12902) dan Al-Bukhori dalam adabul mufrod (479).}
Hadits di atas telah memberikan kepada kita segudang manfaat, antara
lain pentingnya memperhatikan usaha tanpa menunggu hasil dan puas. Tidak
berkutat pada prediksi hasil dalam bentuk berlebihan dengan
mengorbankan usaha dan tindakan. Demikianlah aku diajarkan oleh semut
itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar