Cute Rocking Baby Monkey Bloggernya Ardillah Rachmi : Seekor Semut Mengajariku ; Pelajaran Ketiga

Jumat, 29 Maret 2024

Seekor Semut Mengajariku ; Pelajaran Ketiga

Perkataan seekor semut ketika Nabi Sulaiman ‘alayhissalam beserta pasukannya akan melintas,
يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ
“Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan
tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”
{QS. An-Naml: 18.}
  • PELAJARAN KETIGA: Bersungguh-sungguh Dalam Berkarya Dan Tidak Hanya Sibuk Memprediksi Hasil.
Semut itu telah membuat contoh unik untuk kita dalam hal kepedulian terhadap usaha keras tanpa berfokus pada konsekuensi potensial. Ini adalah benar-benar sifat para Nabi dalam berdakwah di jalan Allah. Mereka mengeluarkan energi maksimal mereka dalam berdakwah, sebab di sini tempat penghargaan dan hukuman, bukan pada hasil. Selama ini kelalaian berasal dari usaha yang dikeluarkan bukan pada hasil yang dicapai. Jika tidak, kita pasti akan menuduh para Nabi Allah telah melalaikan tugas mereka. Dari mereka ada yang tidak memiliki pengikut melainkan beberapa orang saja. Sebagian mereka ada yang tidak mendapatkan pengikut sama sekali. 

Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda, “Telah diperlihatkan kepadaku bangsa-bangsa terdahulu meka berlalu seorang Nabi dengan satu orang pengikut, dan seorang Nabi dengan dua orang pengikut dan seorang Nabi dengan sekelompok pengikut, dan seorang Nabi tanpa pengikut satu orang pun.” {HR. Bukhori (no.5752).}

Maha suci Allah jika Nabi-Nabi-Nya melalaikan tugas dakwah.

Semut ini tidak bertanya pada dirinya sendiri, seperti, “Apakah suaraku yang lemah ini dapat didengar atau tidak? Apakah mungkin suaraku didengar oleh semut yang banyak? Apakah saya dapat memperingatkan mereka sebelum terlambat?” Ambisinya tidak terfokus pada hasil yang akan diraih, meskipun hal itu tetap terlintas pada dirinya, namun keasyikan dengan tindakan aplikatif dan memberikan waktu maksimal dalam mencari kemashlahatan lebih utama daripada membuang-buang waktu dalam memprediksi hasil, 

Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda,
“Jika hari kiamat telah terjadi dan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma, jika ia bisa menanamnya sebelum terjadi maka sebaiknya ia segera menanamnya maka baginya pahala sebab usahanya itu.” {HR. Ahmad (12902) dan Al-Bukhori dalam adabul mufrod (479).}

Hadits di atas telah memberikan kepada kita segudang manfaat, antara lain pentingnya memperhatikan usaha tanpa menunggu hasil dan puas. Tidak berkutat pada prediksi hasil dalam bentuk berlebihan dengan mengorbankan usaha dan tindakan. Demikianlah aku diajarkan oleh semut itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar