Pusaran
badai terkuat di tata surya ini berukuran lebih besar dari bumi…inilah gambaran
untuk titik merah Jupiter. Tahukah sobat??...
titik merah ini mulai menyusut sedikit demi sedikit dari tahun 1930-an hingga sekarang 2014. Apa sih yang menyebabkan terjadinya penyusutan titik merah Jupiter itu??...Langsung aja simak artikel selengkapnya..di bawah ini ^_^
titik merah ini mulai menyusut sedikit demi sedikit dari tahun 1930-an hingga sekarang 2014. Apa sih yang menyebabkan terjadinya penyusutan titik merah Jupiter itu??...Langsung aja simak artikel selengkapnya..di bawah ini ^_^
Penyusutan yang diketahui berlangsung
sejak 1930-an ini mengubah bentuk pusaran badai itu dari lonjong menjadi
lingkaran. Gambar terbaru dari teleskop antariksa Hubble memastikan ukuran
titik merah raksasa itu terus mengecil disbanding sebelumnya. Bintik/Titik
Merah Jupiter, adalah pusaran badai terkuat di tata surya. Ukurannya lebih
besar dari Bumi dan terlihat seperti sebuah mata merah tua yang tertanam
dipermukaan planet berwarna kuning pucat, jingga dan putih. Kecepatan angin
dalamnya sangat luar biasa, mencapai ratusan kilometer per jam dengan putaran
berkebalikan arah jarum jam.
“Pengamatan terbaru menunjukkan
ukurannya 16.500 km, diameter terkecil yang pernah kami catat,” kata Amy Simon
dari fasilitas Goddard Space Flight Center milik Badan Antariksa Amerika
Serikat (NASA) di Maryland, AS.
Seperti dikutip laman Spacetelescope,
kemarin, bintik merah Jupiter pertama kali dideteksi pada 1830-an. Pengamatan
para astronom hingga akhir 1800 menunjukkan pusaran angin bergolak itu memiliki
diameter terpanjang 41.000 km. ukurannya cukup lebar untuk memuat tiga Bumi
berderetan. Subhannallah..^_^
Penyusutan mulai diketahui ketika pada
1979 dan 1980 wahana antariksa Voyager 1 dan 2 milik NASA mengukur Bintik Merah
Jupiter. Hasilnya diameter si “Mata Merah” menjadi 23.335 km. Pemotretan yang
dilakukan lewat teleskop antariksa Hubble pada 1995 menunjukkan diameternya
20.953 km. Lalu, dalam gambar pada 2009 diameter Bintik Merah hanya 17.911 km.
Pengamatan amatir yang dilakukan sejak
2012 belum menemukan penyebab penyusutan itu. Tapi laju penyusutan Bintik Merah
Jupiter terbilang cukup pesat (cepat). “Angkanya mencapai 1.000 km per tahun,”
begitu NASA menuliskan dalam laman resminya.
Simon mengatakan, hasil pengamatan
terbaru NASA menunjukkan adanya pusaran kecil yang masuk ke dalam Bintik Merah.
“Kami menduga hal ini yang memicu penyusutan,” kata dia. Ia dan timnya terus
mempelajari gerakan pusaran kecil dan dinamika di internal badai untuk
menentukan penyebab pasti penyusutan Bintik Merah Jupiter yang masih misterius.
NASA juga terus memperkuat instrument
untuk mengamati Jupiter. Selain mengandalkan Voyager, badan antariksa Negeri
Abang Sam itu meluncurkan pesawat antariksa Juno menuju Jupiter. Menurut
rencana, Juno akan mencapai planet raksasa itu pada Juli 2016. Pengamatan dari
dekat dengan Juno diharapkan akan membantu mengungkap misteri penyusutan Bintik
Merah Jupiter.
Pusaran badai besar seperti Bintik
Merah Jupiter juga pernah dijumpai pada Neptunus, planet tetangga Jupiter.
Namanya Bintik Gelap Raksasa. Namun keberadaannya perlahan menghilang dalam
beberapa dekade terakhir Wahana antariksa Voyager 2 pernah memotret Bintik
Gelap selama terbang melintasi Neptunus pada 1989. “Tapi badai itu tidak
terlihat lagi ketika Teleskop Hubble mengamati planet itu pada 1994,” demikian
NASA menuliskan dalam laman Space.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar