Cute Rocking Baby Monkey Bloggernya Ardillah Rachmi : Jamuan Indonesia yang Bukan Indonesia

Kamis, 21 Agustus 2014

Jamuan Indonesia yang Bukan Indonesia



Sumber : Harian Klasika
Aneh kan?? Jamuan Indonesia yang Bukan Indonesia??...daripada penasaran dan saya juga bingung mau ngetik apa…hehehe langsung aja dibahas, Yuk..^_^.

Apa yah jadinya jika makanan asli Tanah Air terkemas dan tersaji menjadi sebuah jamuan bercorak internasional??...Inilah hasilnya, yang dikenal sebagai RIJSTTTAFEL. Rijsttafel dalam Bahasa Belanda berarti “nasi meja” (rice table). Pada masa penjajahan, masyarakat Belanda menyajikan rijsttafel untuk menunjukkan kekayaan daerah koloni mereka.
RIJSTTAFEL – merupakan cara penyajian makanan berurutan dengan pilihan hidangan dari berbagai daerah di Nusantara. Jamuan ini mengacu pada model penyajian makanan diwarung nasi padang. Namun, sesuai namanya yang berasal dari Bahasa Belanda, yang berarti “nasi meja”…ini adalah salah satu peninggalan dari periode colonial Belanda. Pemerintah colonial dan ekspatriat Indonesia kemudian memperkenalkan rijsttafel kepada orang Belanda sehingga jamuan ini populer di berbagai tempat restoran Indonesia.
Cara penyajian makanan ala rijsttafel memadukan etiket dan tata cara penjamuan resmi Eropa dengan kebiasaan makan penduduk setempat yang mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok dengan berbagai lauk-pauk. Berbeda dengan makanan ala prasmanan, penikmat rijsttafel tak perlu mendatangi meja tempat makanan dihidangkan. Para pelayan yang jumlahnya puluhan orang akan berbasis dan mendatangi meja satu persatu untuk menawarkan rupa-rupa makanan untuk diambil dan diletakkan diatas piring mereka.
Apa saja hidangan yang disajikkan dalam rijsttafel ??...Pada dasarnya, setiap rijsttafel bisa menyajikan hidangan yang berbeda-beda. Yang merupakan pilihan dari koki. Umumnya rijsttafel menyajikan antara 12 hingga 25 hidangan yang disajikan bersama dengan nasi putih atau nasi goreng, bakmi goreng atau kombinasinya.
Inilah beberapa hidangan yang lazim ditemui pada sebuah rijsttafel, antara lain : gado-gado, sambal goreng tempe, sambal telur, sayur lodeh, hingga penganan seperti pisang goreng. Sebagai tambahan, terkadang disediakan pula acar, serundeng, serta sambal dan pendamping makanan lainnya.
Beragamnya pilihan yang disajikan silih berganti menghadirkan pengalaman kuliner tersendiri. Seorang penulis Belanda bahkan menuliskan komentarnya bahwa ia tak bisa mengungkapnya dengan kata-kata. Meski sekarang bukan zaman Kolonial Belanda lagi, beberapa restoran di Jakarta seperti Oasis di Cikini dan Huize  Trivelli di Tanah Abang mencoba menghadirkan kembali budaya rijsttafel sebagai gaya bersantap unik nan berkelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar