Sumber : Harian Klasika
Aneh kan?? Jamuan Indonesia yang
Bukan Indonesia??...daripada penasaran dan saya juga bingung mau ngetik
apa…hehehe langsung aja dibahas, Yuk..^_^.
Apa yah jadinya jika makanan
asli Tanah Air terkemas dan tersaji menjadi sebuah jamuan bercorak
internasional??...Inilah hasilnya, yang dikenal sebagai RIJSTTTAFEL. Rijsttafel
dalam Bahasa Belanda berarti “nasi meja” (rice
table). Pada masa penjajahan, masyarakat Belanda menyajikan rijsttafel
untuk menunjukkan kekayaan daerah koloni mereka.
RIJSTTAFEL – merupakan cara penyajian
makanan berurutan dengan pilihan hidangan dari berbagai daerah di Nusantara.
Jamuan ini mengacu pada model penyajian makanan diwarung nasi padang. Namun,
sesuai namanya yang berasal dari Bahasa Belanda, yang berarti “nasi meja”…ini
adalah salah satu peninggalan dari periode colonial Belanda. Pemerintah
colonial dan ekspatriat Indonesia kemudian memperkenalkan rijsttafel kepada orang Belanda sehingga jamuan ini populer di
berbagai tempat restoran Indonesia.
Cara penyajian makanan ala rijsttafel memadukan etiket dan tata
cara penjamuan resmi Eropa dengan kebiasaan makan penduduk setempat yang
mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok dengan berbagai lauk-pauk. Berbeda
dengan makanan ala prasmanan, penikmat rijsttafel
tak perlu mendatangi meja tempat makanan dihidangkan. Para pelayan yang
jumlahnya puluhan orang akan berbasis dan mendatangi meja satu persatu untuk
menawarkan rupa-rupa makanan untuk diambil dan diletakkan diatas piring mereka.
Apa saja hidangan yang
disajikkan dalam rijsttafel ??...Pada
dasarnya, setiap rijsttafel bisa menyajikan hidangan yang berbeda-beda. Yang
merupakan pilihan dari koki. Umumnya rijsttafel
menyajikan antara 12 hingga 25 hidangan yang disajikan bersama dengan nasi
putih atau nasi goreng, bakmi goreng atau kombinasinya.
Inilah beberapa hidangan yang
lazim ditemui pada sebuah rijsttafel,
antara lain : gado-gado, sambal goreng tempe, sambal telur, sayur lodeh, hingga
penganan seperti pisang goreng. Sebagai tambahan, terkadang disediakan pula
acar, serundeng, serta sambal dan pendamping makanan lainnya.
Beragamnya pilihan yang
disajikan silih berganti menghadirkan pengalaman kuliner tersendiri. Seorang
penulis Belanda bahkan menuliskan komentarnya bahwa ia tak bisa mengungkapnya
dengan kata-kata. Meski sekarang bukan zaman Kolonial Belanda lagi, beberapa
restoran di Jakarta seperti Oasis di Cikini dan Huize Trivelli di Tanah Abang mencoba menghadirkan
kembali budaya rijsttafel sebagai
gaya bersantap unik nan berkelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar