Cute Rocking Baby Monkey Bloggernya Ardillah Rachmi : Kura-kura Leher Ular Rote yang Terancam

Kamis, 21 Agustus 2014

Kura-kura Leher Ular Rote yang Terancam



Sumber : Koran Kompas
            Mungkin sebagian dari sobat udah ada yang tau tentang hewan Endemik ini…kura-kura leher ular yang hidup di pulau Rote, NTT (Nusa Tenggara Timur).
Hewan ini terancam punah karena populasinya di alam terus menurun..langsung saya akan bahas disini apa penyebab hewan endemik ini terancam punah. ^_^
            Pulau Rote, NTT (Nusa Tenggara Timur), mempunyai keanekaragaman hayati yang membanggakan. Di sana ada kura-kura leher ular (Chelodina mccordi) yang biasa berdiam di lahan basah. Namun, satwa endemic di Danau Peto itu kini terancam.
            Sampai tahun 1970, kura-kura jenis ini mudah ditemukandi seantero pulau Rote, seperti di sawah, kubangan, sungai, dan selokan. Hewan ini mirip kura-kura leher New Guinea (Chelodina novaeguinea).
            Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT mencatat, kura-kura ini pertama kali ditemukan tahun 1891 oleh George Albert Boulenger, dan dipisahkan sebagai spesies tersendiri 1994 oleh Dr Anders Rhodin dari Chelonia Research Fondation Lunenburg (Massachusetts), AS. Nama mccordi diberikan oleh William Mccordi, ahli kura-kura dari Hopewell Junction, Newyork, AS.
            Demi pelestarian, tahun 2009 Kementrian Kehutanan dan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, NTT, melepas-liarkan 40 ekor kura-kura leher ular Rote di hutan Peto, di areal seluas 10 hektar. Danau Peto berjarak sekitar 15 km dari kota Ba’a, ibukota kabupaten Rote Ndao.
            Hutan Peto (dimiliki 3 marga yakni: Pellokila, Ambesa, dan Manafe) ini berupa rawa-rawa, yang ditumbuhi kelapa, pisang, kayu putih, jati, dan alang-alang. Kura-kura yang dilepas-liarkan itu diambil dari tempat penangkaran, PT Alam Nusantara Jayatama, di Jakarta. Yang sebelumnya kura-kura didatangkan dari Rote. Kura-kura itu dewasa.
            Selain kura-kura, di kawasan hutan itu juga ada katak sebagai salah satu makanan kura-kura, terdapat juga binatang seperti : siput, telur burung, udang, ikan, tikus, bunglon, dan kera ekor panjang.
            Menurut Ony, wisatawan sering datang ke Lidabesi untuk melihat kura-kura unik itu. Namun, seringkali sulit mendapatinya, sebab kura-kura itu ada dalam rawa-rawa (kawasan terlarang). Pemerintah “menutup” hutan dan danau Peto tahun 2009, melalui sumpah adat. Larangan, disebut holo, itu diperbarui pada Mei 2013.             Maneholo, tetua adat yang bertugas menjaga kawasan itu juga mengikrarkan sumpah untuk merawatnya.
            Tahun 2004, kura-kura unik ini masuk dalam Apendiks II CITES, satwa yang populasinya di alam terus menurun dan terancam punah. Sebelumnya, penjualan kura-kura ini bahkan hingga ke Australia, dibawa oleh turis asing yang mengunjungi Rote. Harga kura-kura itu di Rote berkisar sekitar Rp.500.000 – 1 juta per ekor. Diluar Rote, seperti di Jakarta dapat melonjak hingga 5 juta per ekor.
Penyebab Kura-kura ini Terancam…
            Tahukah sobat??...kini hanya dua tempat di Rote sebagai habitat Chelodina mccordi, yakni Danau Rawa Peto dan sekitar Sungai Lende Oen di Rote Tengah. Tetapi, kura-kura leher ular Rote ini, terutama di sekitar Sungai Lende Oen terancam oleh perburuan liar.
            Tahun 1994, Chelodina mccordi ditetapkan sebagai spesies tersendiri, terlepas dari Chelodina novaeguineae, yang tahun 1980 ditetapkan pemerintah sebagai satwa yang dilindungi. Akibatnya, kura-kura ini pun kehilangan status perlindungan.
            Tahun 1997-2001 ditetapkan status ekspor dengan kuota 259 ekor secara legal dari Indonesia. Kuota ekspor itu dihentikan tahun 2002 karena populasi kura-kura unik itu terancam punah. Mulai tahun 2003, kura-kura ini diperdagangkan kembali secara illegal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar