Sumber : Tempo, 23 Agustus 2014
Tahukah sobat? Tanpa
kita sadari beberapa bakteri yang di beri suntikan antibiotik, bukannya malah
mati tetapi malah bertambah kuat dan berkembang??... Biar lebih jelas, baca
langsung disini selengkapnya.. J
^_^
Udah
pada tau dong, yang namanya makhluk hidup punya cara tersendiri buat melindungi
diri. Bakteri juga gitu, jenis organisme renik atau mikroba yang jamak
menyebabkan penyakit. Untuk mengatasi bakteri ini, manusia biasa menggunakan
antibiotik, right? J
. Dan buat si Bakteri, antibiotik itu ancamaaannnn.
Nah,
saat terancam inilah si Bakteri membentuk ‘Biofilm’.
Apasih Biofilm itu?...biofilm itu lapisan
lendir yang menyelimuti bakteri…terbentuk dari kumpulan sel bakteri yang
menempel satu sama lain dan menghasilkan lapisan kimia yang padat dan berlendir.
Tujuannya untuk melindungi bakteri dari dampak antibiotik.
Tim peneliti dari University of Southern California dan
Oak Crest Institute of Science di Amerika Serikat telah menemukan hubungan
antara antibiotik dan pembentukan biofilm bakteri, yang memicu infeksi paru –
paru, sinus, dan penyakit telinga kronis. Riset mereka menunjukkan bagaimana
biofilm bakteri justru berkembang ketika diberi antibiotik dalam dosis rendah.
“Penelitian ini menjawab soal mengapa beberapa anak
mengalami infeksi telinga berulang setelah diberi antibiotik,” kata Paul
Webster, pemimpin penelitian sekaligus ilmuwan senior dikedua kampus tu,
seperti dikutip ScienceDaily,
kemarin.
Riset yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE edisi terbaru ini mengungkapkan fakta yang cukup
mengejutkan. Dosis rendah antibiotik tidak membuat kumpulan bakteri menyusut,
melainkan sebaliknya. “Begitu biofilm terbentuk, bakteri menjadi lebih kuat
terhadap setiap pengobatan antibiotik.” Webster menambahkan.
Webster dan timnya meneliti Haemophilus influenza (NTHI), tipe bakteri patogen penyebab flu
yang umum menyerang manusia. Dalam percabaan laboratorium, bakteri diberikan
ampisilin (ampisilin adalah kelas antibiotik yang biasa digunakan untuk
mengobati infeksi sauran pernapasan, sinus dan telinga) dalam dosis yang tidak
mematikan.
Kondisi ini disengaja agar memungkinkan bakteri untuk
bereaksi terhadap antibiotik dengan memproduksi glikogen. Gula kompleks yang
sering digunakan oleh bakteri sebagai sumber makanan ini berguna untuk menghasilkan
biofilm yang kuat.
Webster mengatakan biofilm merupakan komunitas mikroba yang
sangat terstruktur. Mereka menempel satu sama lain dan melekat pada permukaan
suatu obyek. Kumpulan organisme renik itu mengelompok bersama – sama dan
membentuk lapisan pelindung polisakarida yang berlendir. “Lapisan ini
melindungi sel – sel bakteri yang ada di dalamnya,” ujar dia.
Tidak hanya itu, lapisan lendir ini menjadi tempat
tinggal yang nyaman bagi setiap bakteri baru yang dihasilkan. Dalam kasus Haemophilus influenza, pemberian
ampisilin memicu bakteri untuk terus menghasilkan glikogen. Zat gula ini
menjadi sumber makanan nyaris tak terbatas bagi biofilm, yang dapat dipakai
setelah paparan antibiotik berakhir.
Sayangnya, sampai hari ini belum ada pengobatan yang
disetujui untuk mengatasi infeksi akibat biofilm bakteri. Padahal, biofilm bakteri
dapat menyebabkan infeksi kronis yang lebih parah. Pasien yang terkena penyakit
tentu sulit untuk disembuhkan.
Pasien dewasa, kata Webster, akan menderita infeksi paru
– paru yang berlarut larut, karena
bakteri terus merunduk di dalam lendir pelindung mereka. Sedangkan, pasien anak
– anak akan mengalami infeksi telinga yang berulang. “Jika infeksi tidak kunung
sembuh, itu pertanda bakteri semakin kebal antibiotik dan membentuk biofilm,”
ucap dia.
Webster percaya pengobatan modern bakal menemukan cara
untuk mendeteksi dan mengobati infeksi biofilm. Ini penting, karena bakteri
yang membentuk biofilm lebih tahan 1.000 kali terhadap antibiotik. Dokter tentu
akan semakin sulit mengatasinya. “Jika antibiotik masih dipakai untuk mengobati
infeksi bakteri, efeknya terhadap pembentukkan biofilm harus terus diteliti,”
ujar dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar