“Bila
anda fokus pada masalah, yang anda peroleh adalah berbagai kemungkinan negatif;
Bila fokus pada penyelesaian masalah, yang anda peroleh adalah berbagai
peluang” (Stepphen Covey)
Pikiran
itu energi dan satu sifat dasar dari energi adalah membentuk. Energi membentuk,
seperti energi listrik, energi ini tidak terlihat namun dapat dirasakan, dan
merupakan sumber untuk membentuk energi lain, yakni dari setrum (arus) listrik
dapat menggerakkan mesin atau menjalankan komputer.
Saya
katakana bahwa pikiran itu energi, karena pikiran kitalah yang akan
menggerakkan aktifitas kita dan bahkan membentuk nasib kita. Apapun aktifitas
anda hari ini dan bahkan nasib anda hari ini merupakan hasil dari aktifitas
energi pikiran anda. Pikiran – bekerja sama dengan niat (spirit) – menentukan
aktifitas kita hari ini.
Bermanfaat
atau tidaknya sebuah energi sangat tergantung pada bagaimana seseorang dapat
memanfaatkannya. Energi listrik yang mengalir di rumah kita, kemanfaatannya
(untuk bisnis atau sekedar konsumsi rumah tangga) sangat tergantung pada
pemiliknya. Listrik tinggalah listrik.
Demikian
pula dengan pikiran, mau dimanfaatkan, dikembangkan secara optimal untuk
kesuksesan hidup, atau malah ditelantarkan begitu saja hingga bodoh, juga
sangat tergantung pada peemiliknya : Anda sendiri. Apabila anda membiarkan
bodoh, pikiran juga tidak pernah protes, malahan pikiran itu akan mengucapkan
“terima kasih” karena tidak pusing – pusing. Namun perlu dicatat, pikiran itu
sifatnya sama dengan besi : bila besi tidak dimanfaatkan maka akan karatan,
pikiran juga demikian akan “karatan” alias bodoh karena pemiliknya
membiarkannya saja, tidak mau dimanfaatkan melalui belajar.
Pikiran
akan berkembang bila ada belajar. Belajar pada dasarnya adalah bagaimana
menghadapi dan menyelesaikan masalah. Tanpa masalah tidak dapat disebut
belajar. Anda masuk sekolah atau masuk kuliah pada dasarnya dilatih untuk
menghadapi dana mengatasi masalah, dari masalah kesulitan materi, tugas – tuas kurikuler
hingga ujian. Apabila anda menceburkan diri ke dunia bisnis, sesungguhnya anda
sedang belajar bagaimana mengembangkan otak/pikiran agar lebih cerdas khususnya
dalam hal bisnis. Maka jangan heran bila orang – orang bisnis Nampak lebih
kreatif, lebih punya banyak akal daripada mereka yang menjadi pekerja monoton
(itu – itu saja). Percayalah bahwa masuk bisnis merupakan salah satu cara
mencerdaskan otak/pikiran. Hanya perlu dibedakan disini. Memang benar bahwa
suatu masalah memang dapat menjadi media asah otak atau media pembelajaran.
Namun yang penting disini, apabila sedang menghadapi masalah, jangan larut
secara total emosional dengan masalah tersebut. Sebab, apabila hal itu terjadi
konsekuensinya adalah energi pikiran akan terkuras habis untuk “meratapi”
masalah itu. Contoh, bila hari ini bisnisnya rugi yang berdampak pada kemampuan
membayar karyawan, janganlah bersedih hati, meratapi nasib berlama – lama pada
akhirnya, menjadi depresi.
Apa
jadinya bila anda depresi? Sumber daya diri anda terkuras habis untuk mengatasi
depresi. Tenaga, pikiran, emosi, dan bahkan orang – orang disekitar anda
tersedot energinya untuk mengatasinya. Cukupkah sumber daya diri anda? Bila
tidak akan berlanjut pada depresi parah: Gila! Bila ini terjadi, semua energi
diri mubadzir, semua capaian anda (prestasi) hilang!.
Mengapa
bisa terjadi demikian? Ingat sifat dasar energi, tergantung peruntukkannya.
Ketika anda sedang fokus pada masalah ; dan masalah tersebut membutuhkan energi
(emosi, pikiran dan fisik), maka sesungguhnya anda sedang menghabiskan energi
hanya untuk “memperbesar masalah” yakni: mengambil energi dari diri sendiri
untuk hal – hal yang mubadzir (hanyut dengan masalah). Hanyut dengan masalah
secara berlebihan membutuhkan energi tanpa batas. Sampai kapan? Kecuali anda
membatasinya yakni tidak hanyut.
Energi
anda akan mengikuti pikiran anda (Energies
follow mind). Arah kapal kemana berlayar akan mengikuti nahkodanya.
Demikian halnya dengan pikiran, kemana fokus anda, pikiran mengikutinya.
Apabila hari ini fokus anda pada masalah sampai hanyut maka energi pikiran akan
mengikutinya. Saya kira, siapa pun orangnya, apalagi seorang entrepreneur
(wirausaha) tidak akan menghanyutkan diri dengan masalah yang justru tidak memberdaya
diri. Sebaliknya, ambil tindakan yang dapat memberdayakan diri, jaga jarak dengan
masalah untuk melihat masalah secara objektif tanpa harus ikut hanyut yang
dapat menjadikan diri anda depresi.
Bagaimana
caranya agar tidak terhanyut dalam masalah yang menyedihkan? Pertama, putus dan
stop arus emosional yang menghanyutkan. Anda harus berani untuk memutuskannya.
Sadari bahwa meratapi masalah bukanlah cara menyelesaikan masalah. Apabila
masih merasa berat dan sulit untuk memutusnya, coba duduk diam sejenak, rileks
dan lepaskan segala ketegangan. Ambil nafas yang dalam, tahan, dan buang nafas
sambil mengatakan rileks…! Lakukan beberapa kali sampai benar – benar rileks.
Apabila sudah merasa rileks, selanjutnya anda boleh jalan – jalan kecil di
sekeliling rumah, lihat – lihat taman, atau sekedar baca – baca ringan. Anda
boleh juga bercanda sejenak dengan anggota keluarga. Menonton tivi juga boleh. Intinya,
ambil aktifitas yang menjadikan diri anda bisa rileks dan bisa
memutuskan/menyetop rasa depresi lebih dulu. Pastikan bahwa anda sekarang sudah
lebih baik daripada sebelumnya, pastikan bahwa anda sekarang rileks dan siap
untuk melakukan aktifitas baru.
Sekarang,
dengan modal kondisi pikiran yang sudah rileks, coba tuliskan sejumlah (minimal
5 buah) prestasi besar atau kecil. Bila tidak mempunyai prestasi, tuliskan
sejumlah peristiwa yang menyenangkan (minimal 5 buah). Ketika anda menuliskan
setiap prestasi/peristiwa yang menyenangkan, sambil mengingat dan sambil
merasakan seolah – olah prestasi/peristiwa itu hadir kembali, seolah – olah
nyata. Selanjutnya, sambil duduk rileks, diam dan pejamkan mata, ingat dan
rasakan satu persatu dari setiap prestasi/peristiwa yang menyenangkan itu.
Tahapannya,
mulailah dari prestasi/peristiwa yang pertama. Rasakan, dengarkan atau lihatlah
seolah – olah prestasi itu hadir kembali. Nikmatilah prestasi/peristiwa itu.
Bila anda benar – benar merasakannya, berhentilah sejenak dan simpan pengalaman
satu itu dalam hati. Dengan cara yang sama, lakukan untuk pengalaman kedua
sampai kelima. Setelah semua peristiwa itu sudah dialami kembali dan anda benar
– benar merasakannya, langkah berikutnya adalah kumpulkan lima pengalaman
(prestasi/peristiwa) ikat lima pengalaman tersebut menjadi satu.
Sekarang
anda sudah merasa lebih berdaya diri, tidak depresi lagi. Apabila kondisi
pikiran dan perasaan anda merasa lebih baik, saatnya pikiran anda untuk fokus
pada penyelesaian masalah tanpa harus ikut hanyut pada masalah. Bila fokus pada
masalah, pikiran secara otomatis, cepat atau lambat akan menemukan solusinya.
Mungkin pada saat di kamar mandi, saat membaca Koran, atau saat memulai
takbirratul ikram (Allahu Akbar) shalat.
Selanjutnya
apabila sudah menemukan solusinya, gunakan kekuatan lima pengalaman yang tadi
sudah diikat, akses lagi dan jadikan satu kekuatan untuk mendukung solusi
tersebut. Dengan segenap kekuatan yang anda miliki, anda akan mampu menghadapi
masalah yang ada. Ketika anda fokus pada penyelesaian masalah, pikiran akan
mencarikan “segudang” solusi yang anda simpan di bawah alam sadar. Sebaliknya,
bila anda fokus pada masalah, dan bahkan hanyut dengan masalah, pikiran bawah
sadar akan mencarikan tambahan masalah yang berkaitan dengan masalah yang
sedang dihadapi. Anda adalah nahkoda pikiran anda sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar