Cute Rocking Baby Monkey Bloggernya Ardillah Rachmi : KERAGUAN

Senin, 27 Februari 2017

KERAGUAN

KERAGUAN
“Ami suka coklat?”
Kenapa Sindy kemarin mendadak bertanya seperti itu, ya?.

Terdengar suara sirine polisi berulang-ulang. Ada kecelakaan kah?. Sekilas aku melihat keluar jendela. Nampak asap tebal dengan percikkan api menyelimuti bis pariwisata di depan SMK PGRI, dan terjadi kemacetan. Terlihat beberapa polisi mengatur lalu lintas.  Macet adalah hal yang paling menyebalkan.
Bertambah 30 menit waktu yang aku butuhkan untuk sampai dirumah dari waktu yang biasanya. Beberapa saat ada pesan masuk dari Kang Sule.

‘Ami jadi jawabannya apa?...’





Karena baterai hp ku habis, aku tak bisa membalas pesannya. Jawaban untuk apa?.
Sesampainya dirumah. Aku masih bingung. ‘Jawaban tentang apa kang??..:D’
‘Coba, buka tasnya…terus liat yang ada di dalam paket Matematika :D’

Aku menemukan sesuatu yang dibalut oleh lembaran kertas. Ternyata itu coklat. Dan lembaran kertas itu adalah ‘Surat Cinta’. Setengah tak percaya dengan hal ini, itulah yang ku rasakan. Aneh. Apakah ini cuma gurauan?.
‘Ami?...’
‘Maaf kang, ami gak mau ngerasain yang namanya sakit hati lagi’
‘Akang bener-bener suka sama ami…’
‘Emang sejak kapan akang suka ami?’
‘Sejak ami pelantikan dewan kerja, pada awalnya sih akang mengelak perasaan akang ini, tapi tetep ngga bisa. Akang bener-bener suka ami’
‘Maaf kang, ami belum bisa..’
‘Akang pengen mengenal ami lebih deket…’

Beberapa menit aku berpikir kembali. Terlintas dalam hati, aku harus memberikannya kesempatan. Mempertimbangkan perasaannya kembali. Jangan pernah menyakiti orang lain, Ami. Tapi disisi lain, aku pun memikirkan prinsip hanya fokus pada sekolah. Bingung, keadaan seperti ini membuatku gelisah, disaat aku harus mengambil sebuah keputusan diantara dua pilihan. Tak ingin menyakiti orang lain.

Beberapa jam aku berpikir. Dalam satu minggu ini, dia bisa mengenalku lebih dekat…untuk kedepannya, aku tak tahu, apakah akan menjadi hubungan kekasih atau malah hanya teman?. Keputusan inilah yang terlintas dipikiranku. Sebenarnya aku juga ingin melupakan 'dia'. Membuka hati untuk orang lain, yang bisa mencintaiku. Bukan seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan itu. Aku harus mencoba. Jika tidak, aku tak tahu apakah aku bisa memiliki cinta yang sempurna. Yang saling melengkapi satu sama lainnya. Yang bisa membuatku tertawa saat bersedih. Yang menemaniku disaat aku sendiri. Yang ada untukku disaat aku membutuhkannya. Yang menghargaiku disaat semua orang merendahkanku. Seseorang mungkin punya kekurangan, tapi sesuatu yang disebut cinta itu mungkin bisa melengkapi. Karena cinta yang membuat seseorang berubah, cinta akan berusaha menjaga seseorang yang di cintainya. Aku ingin memiliki cinta seperti ini.

‘Ya udah kang, ami belum bisa jawab sekarang…akang mau nunggu jawaban ami sampe minggu depan?’
‘Iya, Ami…akang tunggu’
Satu minggu telah berlalu, besok 1 juni. Aku harus memutuskan pilihanku sendiri, harus berusaha tegas dan mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Sebelum tampil demo ekskul besok.
Aku menulis surat jawabanku kepadanya, coklat yang dia berikan masih utuh, aku tidak berani memakannya.
"Hei!, dewan kerja..kalian jangan malas-malasan, besok kita demo. Perlengkapan kalian masih belum siap semuanya.." Teriakan salah satu dewan kehormatan kepada kami (dewan kerja).
"Ya, Kang..ntar kami bangunin yang lainnya dulu" Jawab salah satu diantara kami.
"Cepet! Kalo mau cepet istirahat...selesaiin dulu pekerjaan kalian, jangan maunya tidur aja" sambungnya dengan menggedor jendela dan pintu uks.
Kamipun mulai berlarian menuju ke lapangan serbaguna.
"Satu!..Dua!....."
"Kalian itu lelet ya! Akang hitung sampe 10, kalo kalian telat..push up 1 Seri"
Yang semula beberapa Dari kami sedang tidur, mulai terbangun. Berlarian menuju lapangan dan berbaris. Dengan mata yang berat menahan kantuk, kami mempersiapkan perlengkapan. Bukan hanya kantuk yang  kami tanggung, omelan yang disertai teriak-teriakan perintah juga memenuhi isi telinga kami.
Aduh...aku tak bisa mencerna apapun yang akang dan teteh   sampaikan kepada kami, karna dalam keadaan setengah sadar. Berusaha menyesuaikan dengan yang lain.
Disaat ekskul lain beristirahat. Kami malah harus menjadi kalong dini hari. Padahal, sebelumnya kami sudah mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Hmmm...seperti inilah drama anak smk. Kadang yang pahit terasa manis, yang manis pun bisa terasa pahit.
"Kalian itu gimana sih, masa buat demo tapi propertinya reot, jelek trus gak menarik kaya gni..."
"Biar cepet selesai, sok beresin yang belum benernya..tutupin sampe tertutup rangka kayunya."
Kamipun mulai memperbaiki apa yang disebutkan tadi.

Beberapa menit kemudian..
"Ardillah..gak kedinginan?" Tanya kang Reksa padaku. Mungkin dia merasa aneh melihatku hanya mengikatkan jaket ke pinggang, sedangkan yang lain untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Hehehe dingin..kang" Sambil melihat jaket yang terikat di pinggangku. Bukan karena pengen gaya, tapi celana yang aku pakai sekarang tiba-tiba robek. Lupa bawa cadangan. Mau tidak mau ya harus begini. Hehehe..musibah yang tidak tahu waktu. Hanya Sindy dan Rinjani yang tau ini.
"Oh..." Tersenyum.
Aku diam. Hanya tersenyum.

Seperti rencana sebelumnya, Aku dan Sindy berperan sebagai anak kecil. Tohandi sebagai pedagang sayur. Ahmad dan Lukman sebagai security desa. Kang Casdi sebagai Pak Lurah. Kang Sule sebagai maling yang akan merampok sebuah rumah. Depur, Wasri, dan juga Duriah sebagai ibu-ibu komplek. Kang Daimin sebagai   Dalang yang menceritakan alur cerita. Sedangkan, Dayu dan yang lainnya berperan sebagai pendemo.
Yang berubah hanya celana yang Aku pakai. Memakai celana training, milik Rinjani. Kantuk yang aku rasakan menghilang, ketika mengingat besok. Tampil di depan banyak orang untuk pertama kalinya. Huuufffttt...berusaha yang terbaik ami, jangan sampai melakukan kesalahan sekecil apapun.
"Amiii..." Panggil Sindy dengan suara lirih.
"Hehehe kenapa Sin?..kepikiran besok tah?" Tebakku setelah melihat ekspresi Sindy.
"Iya, Ami..besok bisa gak ya"
"Aku juga gak tau, Sin.."
"Deg degan..nih, Mi coba pegang telapak tangan aku"
Memegang telapak tangan Sindy. Terasa lebih dingin dan sedikit lembab daripada tadi sore.
"Dingin kan?"
"Hehehe iya, Sin..dingin banget tangan kamu tuh"
"Hehehe..maka dari itu, sekarang aja udah deg degan apalagi besok pas tampil" Ucap Sindy dengan ekspresi wajah khawatir.
"Iya ya..hhuuuuffftt, lillahita'ala aja Sin" Kataku mencoba menenangkan Sindy sambil menghela nafas panjang. Walaupun aku juga belum bisa menenangkan diri sendiri.

***
Seperti seorang pasien di ruang UGD. Perasaan khawatir antara berhasil atau tidaknya melewati masa operasi. Nafas menjadi sesak seolah asma mulai muncul di paru-paru. Persendian perlahan-lahan mulai berat digerakkan. Jantung berdebar-debar. Memikirkan kami akan tampil beberapa menit lagi. Setelah penampilan dari Marching Band.

 Melihat penampilan demo dari Marching band membuatku terperangah, terkagum mendengar merdunya alunan nada yang dihasilkan dari berbagai alat musik. Indah, rasanya tak ingin ku kedipkan mata sedetik pun. Apakah penampilan kami akan sebagus mereka?. Hanya bisa berusaha. Siswa PPDB yang menyaksikan penampilan mereka pun mulai bertepuk tangan meriah.

Setelah ini, giliran PMR tampil. Beberapa menit sebelum demo dari Marching selesai, kami harus stand by di tempat yang sudah diatur sebelumnya. Huuuffftttt...untuk beberapa menit, jadilah orang lain ami, anggap saja ini sebuah permainan, rileks ami.
"Ardillah! Sindy!" Panggil Kang Novsa, menunjukkan tempat keluar untuk aku dan Sindy.
"Ntar kalian keluar dari sini, trus lakuin sesuai dengan latihan..pura-pura jadi anak kecil yang lagi main bareng. Buat Sindy, jangan lupa pas ada suara meledak, langsung pingsan" Sambungnya memberi pengarahan.
"Iya, kang" Jawab Sindy.
Aku hanya mengangguk.
"Oh iya, Ardillah..ntar pas adegan demo, ikut jadi salah satu pendemo..soalnya kita kekurangan orang, biar keliatan lebih nyata gitu demonya" Jelas Kang Novsa.
"Iya, kang".

Demo kamipun dimulai.
Untuk pertama kalinya, aku berusaha melawan rasa takut. Sebagai orang lain. Aku juga melakukan hal yang selama ini aku hindari karena membencinya. Bukan saatnya untuk berpikir ami, saat ini aku harus menyelesaikan bagianku.

Lagu sudah dimainkan, tandanya aku dan sindy mulai memainkan peran di lapangan. Bersamaan dengan tukang sayur. Keringat panas dingin muncul secara perlahan saat aku berjingkrak-jingkrak  dengan membawa pistol mainan, layaknya orang gila tapi kenyataannya aku berperan sebagai anak kecil.
Ibu - ibu pun mulai berdatangan. Bergosip ria sambil membeli sayuran. Ini bukan hal yang aneh. Kemudian, si maling mendekati anak-anak bermaksud mencuri mainan kami (aku dan Sindy).

Sejenak waktu terasa berhenti, aku tak mengerti kenapa dia menyukaiku?. Jelas kesukaan bahkan hobi yang kami miliki berlawanan. Aku tak mengerti. Melihatnya memerankan peran dengan perasaan setenang itu membuatku sedikit kagum. Benar-benar hebat, bisa melakukan hal yang seperti ini. Bukan hanya sekali, bahkan berkali-kali dia sering membuat orang tertawa dengan tingkah lakunya.
Maaf telah membuat akang menunggu terlalu lama. Hanya tak ingin merusak konsentrasi akang dalam demo. Karena akang sangat penting untuk demo ini, untuk PMR. Masih ada rasa ragu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar