Cute Rocking Baby Monkey Bloggernya Ardillah Rachmi : Hakikat Syukur dan Sabar (Bagian 1)

Senin, 06 Januari 2025

Hakikat Syukur dan Sabar (Bagian 1)

✍🏻 Hakikat Syukur dan Sabar (Bagian 1)

Syukur adalah pemahaman seorang hamba bahwa segala sesuatu adalah karunia Allah. Sedangkan sabar adalah keteguhan diri sebagai hamba Tuhan.

Syukur adalah inti Iman, sedangkan sabar adalah inti Islam. Jelasnya, orang yang memercayai Tuhannya disebut "mukmin", sedangkan orang yang menyerahkan dirinya sebagai hamba disebut "muslim". Keduanya terjadi dalam waktu yang sama. Sebab, sebelum mendapat keyakinan, hati berada dalam kebingungan dan keraguan mencari Tuhan. Ketika ia mendapatkan rahmat serta menemukan cahaya dan hidayah, ia terbebas dari kebingungan itu. 

Bila semua prasyarat diatas sudah terpenuhi, jadilah dia seorang muslim yang menyerahkan diri kepada Allah sebagai hamba yang tunduk dan patuh. Ketika itulah ia berhak menyandang gelar mukmin-muslim, karena iman dan islam telah mewujud dirinya pada waktu yang bersamaan.

Selanjutnya, dia diperintahkan untuk menegaskan keimanan dan keislamannya secara lisan supaya keselamatan jiwa, harta, dan kehormatannya terjamin. Penegasan keimanan dan keislaman itu kemudian menjadi alasan Allah menjatuhkan hukuman bagi siapapun yang membahayakan jiwanya, merampas hartanya, atau merendahkan kehormatannya tanpa alasan yang benar. 
Tetapi, apabila orang yang telah memiliki iman dan islam itu tidak menegaskan keimanan dan keislamannya, Allah tidak mempunyai alasan untuk melindungi jiwa, harta, dan kehormatannya. 

Setelah mengikrarkan keimanan dan keislaman, engkau harus memenuhi semua tuntutan iman dan Islam sepanjang hidupmu. Engkau harus memelihara dan menjadikan dua hal ini sebagai pedoman : apa yang Dia lakukan terhadapmu dan apa yang Dia perintahkan untuk kau lakukan.

Yang pertama adalah hukum-hukum dan ketetapan-Nya yang diberlakukan atas dirimu, seperti mulia dan hina, miskin dan kaya, sehat dan sakit, takut dan aman, sulit dan lapang, anugerah dan musibah, senang dan sedih, dst. Pada semua itu, Dia menuntutmu untuk ridha serta menerima dengan lapang hati dan keimanan penuh. Jika engkau tidak bisa ridha, maka mau tak mau, engkau harus bersabar, berusaha tetap diposisi yang seharusnya, dan tidak bermaksiat kepada-Nya.

Yang kedua adalah perintah dan larangan-Nya. Engkau harus melakukan semua kewajiban yang Dia perintahkan dan menjauhi segala yang Dia haramkan. Dia menuntutmu untuk memenuhi perintah dan larangan ini. Dengan begitu engkau menyerahkan dirimu sebagai bentuk penghambaan, dan pada saat yang sama engkau serahkan dirimu sebagai bentuk kepasrahan (Islam). Jika engkau meninggal dunia dalam keadaan seperti ini berarti engkau telah menjadi hamba (mukmin) yang telah memenuhi tuntutan iman dan Islam. Dalam keadaan seperti itu, engkau akan dibebaskan dari penimbangan dan perhitungan amal. Tetapi, jika hanya sebagian tuntutan iman dan Islam yang engkau jalankan, maka engkau harus melewati proses penimbangan dan perhitungan amal, agar jelas mana dan seberapa banyak kebaikan dan keburukanmu. 

Inilah penjelasan tentang iman dan Islam. Aku berharap penjelasan ini dapat mengakhiri perselisihan tentang iman dan Islam; diantara mereka ada yang menyatakan bahwa keduanya adalah sama; sebagian lainnya berpendapat bahwa keduanya berbeda.

Kembali kepada pembicaraan sabar dan syukur. Syukur adalah keterbukaan hati, sehingga engkau dapat melihat dengan jelas nikmat yang diberikan kepadamu. Kata "syukr" dan "kusyr" terbentuk dari huruf yang sama serta memiliki arti yang sama, hanya saja digunakan dalam konteks berbeda. Jika seseorang tersenyum, maka kata yang tepat untuk menyatakan hal itu adalah "kusyr" dan apabila seseorang merasakan kelapangan hati, maka kata yang tepat untuk menunjukkan keadaan itu adalah syukr.

----- bersambung

Source : Buku Belajar Berjiwa Besar, hal 185 - 187. Dalam bab Lebih Utama mana:  Sabar atau Syukur? Al - Hakim al - Tirmidzi*.


---- *yang disarikan dari Al-Hakim al - Tirmidzi Ghawr al - Umur (Kairo : Maktabah al - Tsaqafah al - Diniyah, 2002) dan 'Ilm Awliya : Namadzaj min Tashawwuf al - Muslimin (Kairo : Maktabah al - Hurriyah al - Haditsah, 1993).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar