✍🏻 Hakikat Syukur dan Sabar (Bagian 2)
Syukur adalah mengungkapkan nikmat dari Allah dalam hati. Diriwayatkan, al - Hasan al - Bashri berkata, "Musa a.s. berkata, 'Ya Allah, bagaimana Adam bersyukur kepada - Mu?' Allah menjawab, 'Dia tahu bahwa nikmat yang dia terima dari-Ku. Itulah syukur Adam.'" Pengetahuan adalah persepsi dalam dada, sedangkan dada adalah tempat tinggal hati yang memancarkan cahaya. Jika muncul satu pemikiran atau ingatan tentang sesuatu, maka bayang-bayang pemikiran atau sesuatu itu terpantul di dinding dada, seperti bayang-bayang jari tanganmu, atau apa saja, di dinding rumah ketika engkau menyalakan lampu. Ketika itu, engkau dapat membayangkan sesuatu yang bayang-bayangnya tampak didepanmu.
Seperti itu pula yang terjadi pada hati. Ia membayangkan sesuatu yang sering kau ucapkan atau sering kau ingat. Tetapi, jika engkau menyebut nama Sang Khalik, maka engkau tidak akan mendapati bayang-bayang-Nya dalam dadamu, sebab Dia-lah yang memancarkan cahaya di dalam dada. Dada yang terang ibarat cermin. Apabila engkau menghadap cermin, maka engkau dapat melihat gambar dirimu dicermin itu. Jika cahaya matahari mengenai cermin, maka cermin akan memantulkan cahaya yang terang dan memenuhi rumah. Itulah sifat syukur.
Adapun sabar terbentuk dari kata ashabah, yakni menjadikan sesuatu sebagai sarana bidik anak panah. Perumpamaan sabar seperti seseorang yang berdiri teguh disatu tempat, tidak condong ke kiri dan ke kanan, kendati dia dijadikan sebagai sasaran anak panah. Seperti itulah orang sabar. Dia tetap berdiri di hadapan-Nya seraya tetap menaati hukum-Nya. Apabila ia lari ketika anak panah takdir Allah menimpanya karena merasa sakit menanggung tusukan anak panah tersebut, berarti dia meninggalkan kedudukan yang selama ini dia jaga dengan setia.
Syukur adalah melihat, merasakan, dan mengakui nikmat dan karunia-Nya. Sedangkan sabar adalah meneguhkan diri di hadapan-Nya, seperti keteguhan tiang atau dinding yang dijadikan sasaran anak panah. Dalam syukur, engkau menghaturkan puja-puji untuk-Nya, sedangkan dalam sabar engkau menunjukkan ketegaran dan keteguhan.
Syukur adalah menyampaikan pujian kepada-Nya atas nikmat-Nya. Kata "hamd" dan "madh" bermakna sama : pujian. Hanya saja kata "hamd" digunakan untuk memuji perbuatan-Nya, sedang kata "madh" digunakan untuk memuji sifat-sifat-Nya. Penglihatan dan kesadaranmu akan nikmat-Nya membuatmu malu (al-haya'), tunduk, dan patuh kepada-Nya.
Sabar adalah engkau setia saat Dia mengujimu untuk mengetahui baik-buruk dirimu, apakah engkau sanggup tegar berdiri untuk-Nya, dan apakah engkau sanggup bertahan diterpa badai dan dijadikan sasaran panah takdir-Nya. Ketulusan dan kesetiaanmu kepada-Nya akan tampak setelah engkau diuji. Jika sanggup bertahan, maka engkau berhak menyandang predikat "shabbarun syakur" (penyabar dan banyak bersyukur). Bila kesabaran dan syukur mencapai puncaknya, maka kata sabar menjadi "shabbar" dan kata syukur menjadi "syakur". Tentang sifat mulia ini, Allah berfirman, "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang sabar dan banyak bersyukur." [Q.S. Ibrahim (14) : 5].
Awalnya sabar, kemudian diikuti dengan syukur, karena ungkapan syukur seseorang akan tampak dari kesabarannya. Syukur itu tersembunyi, seperti api yang tersembunyi dalam batu. Sedangkan ujian adalah seperti kayu bakar yang menyala karena api dari batu. Bila dua batu digesekkan, api akan menyala. Demikian halnya dengan syukur, yaitu mengakui karunia dan nikmat-Nya, memuji Sang Pemberi Nikmat, mengagungkan anugerah-Nya, tunduk dan merendahkan diri pada keagungan-Nya, serta memasrahkan jiwa kepada-Nya. Semua ini tersimpan didalam hati, seperti api yang tersimpan didalam batu. Untuk mengeluarkan api syukur dari dalam hati, harus ada gesekkan dan benturan, serta harus tersedia kayu bakar agar api menyala. Gesekkan, benturan, dan kayu bakar adalah ujian, cobaan dan karunia-Nya. Ujian dan cobaan saja mungkin tak menyalakan api syukur, karena yang keluar bukan api syukur, melainkan sabar dan pasrah. Supaya api syukur benar-benar menyala, maka harus ada kayu bakar, yaitu nikmat dan karunia-Nya.
-- selesai --
Source : Buku Belajar Berjiwa Besar, hal 187, 190, 191. Dalam bab Lebih Utama mana: Sabar atau Syukur? Al - Hakim al - Tirmidzi*.
---- *yang disarikan dari Al-Hakim al - Tirmidzi Ghawr al - Umur (Kairo : Maktabah al - Tsaqafah al - Diniyah, 2002) dan 'Ilm Awliya : Namadzaj min Tashawwuf al - Muslimin (Kairo : Maktabah al - Hurriyah al - Haditsah, 1993).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar