- Titik Awal: Sebelum Penerimaan Diri -
Kalimat "ga pernah ngerasa sebenci ini sama Tuhan, ngerasa gagal banget. Belum bisa jadi apa-apa." Adalah titik awal sebelum datangnya penerimaan diri. Ini patah hati yang tercipta karena ada ke-aku-an, merasa mampu mengendalikan segala hal dalam hidup, ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan maka penolakan—karena kesempitan hati, karena ketidaktahuan lebih dominan menyalahkan keadaan, terutama Tuhan. Menggugat takdir.
Kenapa benci Tuhan? Kenapa kita merasa "harus" bisa segalanya?. Tanyakan pada diri sendiri dan jawablah dengan jujur.
Jika memang diri kita merasa mampu atau harusnya bisa menanggung semua beban hidup. Pikirkan ini, "apakah diri ini mampu mengendalikan detak jantung?."; "apakah diri ini yang mengendalikan aliran darah dalam tubuh?."; "apakah diri ini bisa bernafas dengan normal tanpa campur tangan Tuhan?." Seperti yang pernah saya tuliskan beberapa waktu yang lalu, tentang salah satu ayat dalam surah Ar-Rahman, "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?."
Kita memang ga bisa apa-apa. Kalo bukan karena Tuhan yang ikut campur segala hal dalam hidup kita.
"Aku ngerasa gagal. Belum bisa jadi apa-apa."
Kesadaran yang baik adalah memvalidasi perasaan. Kalo kita pakai sudut pandang negatif, hal yang pertama kita salahkan adalah takdir, menggugat takdir, merasa malang karena membandingkan kehidupan dengan orang lain—yang hanya kita tahu secuil kehidupan mereka dari postingan di sosmed atau kata tetangga. Apakah kamu tahu segala hal?. Tentu saja tidak.
Kedua, kalo kita pakai sudut pandang positif, kalimat "Aku ngerasa gagal. Belum bisa jadi apa-apa," sebetulnya adalah kalimat memasrahkan segala hal kepada Sang Maha Kuasa. Kemudian akan ada kesadaran bahwa segala hal di luar kendali diri, dan ga semua hal harus kita kendalikan. Menyadari keterbatasan diri. "Aku hanya mampu mengendalikan respon terhadap apa yang terjadi, karena tidak akan ada daya upaya melainkan karena kehendak Allah."
Seperti halnya ujian sekolah, dalam menjalani kehidupan juga perlu persiapan, yaitu menambah ilmu—belajar. Bedanya dalam kehidupan kita diuji dulu, kemudian baru bisa belajar (mengambil pelajaran). Ayo kita ambil pelajarannya.
Berproses dalam hidup tidak semudah tulisan ini. Kehidupan memang dirancang supaya manusia berjuang—sesuai skenario takdir, takdir yang berbeda-beda. Jangan mengukur bahkan membandingkan takdir manusia satu dengan yang lainnya, karena setiap ketetapan punya "tantangan"nya masing-masing.
Cara melapangkan hati yang sempit adalah menerima—melalui perenungan. Dengan menyadari ketidakberdayaan, keterbatasan diri berarti menurunkan ego (ke-aku-an). Kemudian mulai melangkah walau langkah itu kecil. Melatih rasa sabar, memperbesar rasa syukur dan ber-husnudzon terhadap takdir. Meringankan langkah dengan berhenti fokus pada kehidupan orang lain, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, ingatlah tidak ada kata terlambat selama nafas kita masih berhembus. Jangan terlalu sering menyesali masa lalu.
Kamu bisa baca ringkasan karya para ulama pada buku Belajar Berjiwa Besar yang diterbitkan Pijar Nalar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar