Allah sangat dekat denganmu. Setiap pikiran dan gagasan yang kamu yakini, Allah akan selalu berada di dalamnya. Karena Dia yang memberikan eksistensi bagi gagasan dan pikiran itu dan membuatnya berada di pangkuanmu. Tetapi karena begitu dekatnya Dia denganmu, kamu tidak bisa melihat-Nya.
Keadaan semacam ini seperti keadaan seseorang yang tidak melihat air mengalir. Dia dilemparkan ke dalam air itu dengan kedua mata tertutup kain, lalu tubuhnya merasakan sesuatu yang basah dan halus. Saat penutup itu tersingkap dari kedua matanya, ia baru bisa mengerti bahwa itu adalah air. Ia mengetahui pengaruhnya terlebih dahulu sebelum melihat wujudnya.
Karenanya, mintalah kepada Allah dan carilah kebutuhanmu di sisi-Nya, sebab tuntutanmu tidak akan disia-siakan :
ادْعُوْنِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Berdoalah kamu sekalian kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu" (QS. Al-Mu'min : 60)
Ketika kami berada di kota Samarkand, Khwarizm Syah beserta bala tentaranya mengepung kota itu dan bersiap-siap untuk berperang. Di kota itu ada seorang perempuan bangsawan yang amat cantik dan tak ada seorang pun yang bisa menandingi kecantikannya. Setiap saat aku mendengarnya berdoa : "Ya Tuhan, bagaimana mungkin Engkau akan mengizinkanku jatuh ke tangan orang-orang zalim? Aku tahu Kau tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku pasrah kepada-Mu." Ketika pasukan Khwarizm Syah sudah menguasai kota, semua orang dijadikan tawanan, bahkan para gadis pun ditangkap. Tetapi anehnya, perempuan bangsawan itu dibiarkan begitu saja dan tidak ditangkap. Meskipun ia begitu cantik, tapi tidak ada satu lelaki pun yang tahan melihatnya. Dari sini, kamu jadi tahu bahwa setiap orang yang menyerahkan dirinya pada Allah, maka orang itu akan aman dari berbagai malapetaka dan selamat dari bencana. Tidak ada satupun tuntutan manusia yang diabaikan oleh-Nya.
Ketika Maryam dilahirkan, ibunya bernazar akan menjadikan Maryam sebagai pelayan di Rumah Allah dan tidak akan memerintahnya melakukan pekerjaan yang lain. Sang ibu kemudian meninggalkan Maryam di pojok masjid. Zakaria ingin mengasuhnya, tapi semua orang memiliki hasrat yang sama dengannya sehingga terjadilah perseteruan diantara mereka. Pada masa itu -- jika ada sesuatu yang diperebutkan -- berlaku suatu kebiasaan bahwa setiap orang yang terkait dengan perebutan itu harus melemparkan sepotong kayu ke dalam air. Kayu siapa yang mengambang paling lama, diatas permukaan air, maka apa yang diperebutkannya itu akan menjadi miliknya. Tanpa disangka yang memenangkan persaingan itu adalah keluarga Zakaria. Mereka pun berkata : "Dialah pemilik kebenaran." Setiap hari Zakaria mendatangi Maryam dengan membawa makanan. Tapi ia selalu saja melihat ada makanan yang sama seperti yang dibawanya dipojok masjid. Zakaria pun bertanya : "Maryam, akulah yang mengurusi (keperluan)mu. Darimana kamu dapatkan makanan ini?"
Maryam menjawab : "Jika Allah sudah mengirimkan semua yang aku inginkan padaku, bagaimana aku bisa butuh makanan darimu? Sungguh keagungan Allah dan kasih sayang-Nya tak terbatas hingga setiap orang yang bersandar kepada-Nya, sandarannya itu tidak akan sia-sia. Zakaria kemudian berdoa : "Ya Tuhan, karena Engkau telah memudahkan kebutuhan semua makhluk, mudahkanlah juga harapanku. Karuniakan seorang anak dari sisi-Mu padaku, yang kelak akan menjadi kekasih-Mu, yang akan dengan senang hati berada di sisi-Mu dan sibuk mematuhi-Mu tanpa aku perintah." Akhirnya Allah mendatangkan Yahya ke dunia pada saat punggung Zakaria telah membungkuk dan melemah. Sementara ibunya yang sudah menjadi tua renta dan tidak bisa melahirkan seorang anak pun di masa mudanya, tiba-tiba mengalami haid dan mengandung.
Dari sini, yakinlah bahwa segala sesuatu begitu mudah di hadapan Allah, sebab semua berasal dari-Nya. Dia adalah hakim mutlak bagi segala sesuatu. Orang beriman adalah orang yang mengetahui jika di balik dinding ini terdapat satu Wujud yang melihat semua keadaan kita, satu persatu. Dia melihat kita meskipun kita tidak bisa melihat-Nya. Inilah keyakinan orang beriman. Sementara orang yang tidak beriman selalu berkata : "Tidak, semua ini hanyalah sebuah hikayat." Ia tidak mempercayainya, sehingga ia akan datang di hari penghisaban, dimana Tuhan akan menggosok telinganya dan ia akan menyesal seraya berkata : "Ah, aku telah mengucapkan sesuatu yang buruk dan keliru. Sejatinya Dia-lah (pengatur) segala sesuatu, namun selama ini aku mengingkari-Nya."
Src: Fihi Ma Fihi, Maulana Jalaluddin Rumi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar